Bla-bla-bla IMPALA

Untuk apa ikut IMPALA? Ngapain sih segitunya banget aktif di organisasi? Pertanyaan-pertanyaan kaya gitu sering banget saya dapet dari temen-temen. Saya yakin pertanyaan yang sama juga didapet anggota-anggota IMPALA yang lain. Kalau udah dapet pertanyaan kaya gitu paling kita cuma bisa senyum terus ngejawab dengan alesan-alesan ngawur.  Mentok-mentok kita cuma bisa ketawa terus ngomong “haha aku juga bingung kenapa”

Wajar juga sih banyak yang nanya kaya gitu. Kegiatan IMPALA dalam satu tahun itu padet, konsekuensinya sebagian besar waktu kita habis buat IMPALA. Sampai muncul istilah umum; anggota IMPALA itu fakultasnya di sekretariat. Kuliah cuma jadi kegiatan UKM doang, sampingan.

Tapi kadang bosen juga ditanyain hal yang sama berulang-ulang. Akhirnya saya coba pikirin biar bisa kasih mereka jawaban yang memuaskan. Dan setelah perenungan panjang yang menghabiskan banyak waktu dan energi, akhirnya saya mendapat ilham. Jawabannya adalah karena kita anggota IMPALA punya ikatan emosional yang tinggi, baik itu ikatan antar anggota maupun ikatan emosional ke organisasi.

Gimana ikatan emosional antar anggota itu terbentuk punya penjelasannya sendiri. Intensitas pertemuan antar anggota IMPALA itu sangat tinggi, setinggi curah hujan kota Malang di musim penghujan. Setiap hari selama bertahun-tahun waktu kita abis aja sama mereka-mereka para anggota. Makan bareng, tidur bareng, nongkrong bareng, cuma aktivitas buang hajad aja kayanya yang ga bareng.

Ikatan emosional juga terbentuk karena perasaan senasib seperjuangan selama berkegiatan di IMPALA. Perjuangan meyukseskan kegiatan yang udah berani kita konsepkan. Kadang kita suka bingung dan bertanya-tanya pada Tuhan kenapa kita kayaknya enggak pernah benar kalau berkegiatan di IMPALA. Selalu aja kena semprot walau kita ngerasa udah menjalankan kegiatan dengan maksimal. Tapi selama proses penggojlokan mental itu sebenernya kita dipacu untuk terus jadi lebih baik dan secara tidak langsung solidaritas anggota juga terbentuk.

Selain ikatan emosional antar anggota, ada juga ikatan emosional dari tiap anggota ke organisasi. Anggota IMPALA ngerasa kalau mereka dapet banyak ilmu selama aktif berorgnisasi. Ilmu yang menurut mereka berguna bagi kehidupan.  Jadi mereka ingin IMPALA tetap eksis, agar adik-adiknya juga bisa berkembang dan dapet ilmu, sama seperti apa yang mereka dapet dulu. Jadi jangan heran kalau kalau wong wong tuwek, anggota IMPALA yang udah pada tua masih suka datang ke sekretariat dan tetap coba berkontribusi.

IMPALA UB yang berasas kekeluargaan jadi bukan cuma omong kosong karena itu semua. Antar anggota sampai hilang rasa kesungkanganan buat saling ‘nyusahin’.  Semua anggota bisa jadi dirinya sendiri. Walau kadang ada juga sih anggota yang kebawa emosi dan berantem. Berantem karena bercandaan anak IMPALA yang memang sering  kelewat bates. Tapi tunggu aja berberapa jam paling mereka udah akur lagi.

Kira-kira itu yang menurut saya bisa jadi jawaban buat mereka yang nanya kenapa mau aktif di IMPALA. Tapi setelah dipikir lagi kepanjangan juga kalau harus menjelaskan itu semua ke mereka. Dan lagi mereka akan tetap kesulitan untuk ngerti, karena mereka memang ga ngerasain langsung seperti apa yang kita alamin. Jadi kalo ada yang nanya lagi kenapa, jawab aja “karena aku anak IMPALA, kamu ga akan ngerti.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s