Mlg-Jkt Februari 2018

Selalu ada yang menarik dalam perjalanan panjang menggunakan kereta. Terlebih jika perjalanan itu dilakukan seorang diri. Lima belas jam lebih saya melintasi pulau jawa dari malang menuju jakarta.

Waktu perjalanan yang panjang membuat banyak interaksi dilakukan antar penumpang. Walau mereka belum saling kenal. Setidaknya interaksi itu bisa sedikit membunuh waktu.

Selama perjalanan kemarin saya duduk bersama seorang pria yang bekerja sebagai buruh pabrik di tangerang. Bapak ini senang bicara dan bercerita. Ia hampir bicara tentang apa saja mulai dari kehidupan pekerjaan sampai kehidupan pribadinya.

Ia bercerita bahwa ia adalah anak dari seorang prajurit tentara yang kini sudah pensiun. Ayahnya adalah orang berkepribadian keras. Baru saja ayahnya bertengkar dengan menantu dan hampir membunuhnya dengan keris.

Anak bapak ini tidak kuliah dan belum juga bekerja setelah lulus sma. Ia tidak ingin memaksakan apapun ke anaknya. Mungkin karena ia tidak ingin mengulangi bagaimana ia dulu dididik dengan cara militer oleh ayahnya.

Pabrik tempat ia bekerja memproduksi ban untuk kendaraan bermotor. Ia mengeluhkan beberapa hal tentang pekerjaannya. Karir sebagai operator mesin pabrik akan sangat lama untuk naik. Kinerja yang baik tidak berarti apa-apa bagi para buruh, itu justru hanya akan dinilai sebagai prestasi karyawan di level manajer.

Kereta akan berhenti di beberapa stasiun selama perjalanan. Kesempatan ini biasa saya gunakan untuk membakar rokok di saat kereta berhenti cukup lama. Selagi menghisap rokok saya senang memperhatikan keramaian dan kesibukan yang terjadi di stasiun.

Salah satu yang menarik peratian saya adalah aktvitas para pengangkut barang. Mereka dengan seragam lusuh, yang mungkin hanya satu minggu sekali dicuci, dengan sigap memasukan peti-peti besar atau bahkan sepeda motor ke gerbong khusus barang. Salah satu diantara mereka ada yang tertidur lelah di atas lori. Maklum saja bagi saya karena saat itu memang sudah jam dua pagi, waktu yang memang dipakai manusia normal tidur.

Sebenarnya saya tertarik untuk berbicara dengan para pengangkut barang itu. Ada beberapa pertanyaan yang muncul. Bagaimana kesejahteraan mereka sebagai pekerja? Apakah mereka senang dengan pekerjaannya? Namun kereta tidak pernah berhenti terlalu lama untuk saya sempat berbincang. Lagipula mereka selalu terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Terhormatlah mereka, terhormatlah mereka yang bekerja!

Kereta kemudian kembali berjalan. Orang-orang di dalamnya terlelap. Beberapa tetap terjaga dan menatap kosong keluar jendela, menerbangkan pikiran kemana-mana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s