Tebing Tanggul nan Tangguh!!

Tebing Tanggul nan Tangguh!!

Sinar matahari, baru akan menyentuh langsung kulit diatas pukul dua belas. Sebelumnya sinar matahari terhalang oleh tebing setinggi lebih dari dua ratus meter. Tebing tanggul dengan gagah membuat bayangan raksasa di sekitar kami. Kondisi ini menguntungkan, karena pemanjatan yang kami lakukan bisa berlangsung sedikit lebih nyaman.

Waktu pertama melihat tebing tanggul dari dekat, kami dapat merasakan kegagahan yang tebing ini miliki. Sebuah perasaan luar biasa yang selalu saya dapat ketika berada di alam bebas. Tebing tanggul berhasil memancarkan keagungan Sang Pencipta.

Saya mendapat kesempatan pertama sebagai leader untuk menjajal tebing yang berada di Kabupaten Tulungagung ini. Saya merintis jalur dari dasar tebing ke pitch satu. Saya sedikit mengalami kesulitan karena pegangan yang ada pada jalur sedikit dan jarak antar pengaman cukup jauh. Terasa sedikit kagok untuk saya yang selama lebih dari satu bulan belum menjajal lagi tebing sungguhan setelah akhirnya saya merayap-rayap di Tebing Tanggul.

Pitch satu tebing tanggul kira-kira cukup untuk lima orang duduk secara nyaman dan terdapat satu pohon dengan tinggi sekitar dua meter. Tempat yang cukup luas untuk ukuran pitch di tebing. Pemanjatan kemudian terus dilanjutkan dengan saling berganti peran (leader, cleaner, rescuer/tim hauling) antar anggota tim di tiap pitch. Pemanjatan kali ini dilakukan oleh empat orang dan tentunya dua orang tambahan sebagai kru darat yang bertugas memantau pemanjatan dari bawah.

Saat berada di pitch dua saya sempat merasa kebingungan, setelah Reny yang berada di pitch satu memarahi saya yang melihat ke arah bawah. Kemudian saya ketahui ternyata Reny marah karena pada saat itu dia sedang buang air besar di pitch satu. Setelah mengetahui itu saya tidak dapat menahan tawa. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana Reny bisa melakukan ‘aktivitias fitrahnya’ dalam kondisi seperti itu, karena saya sampai saat ini tidak pernah melakukan ‘itu’ saat sedang berada di tebing. Pemanjat wanita satu-satunya di tim kami ini memang sediki ‘aneh’.

Pemanjatan hari pertama dihentikan ketika langit dipenuhi guratan-guratan merah. Suasana entah mengapa menjadi sangat indah. Angin sejuk yang menghempas lembut wajah dan pemandangan langit sore menjadi paduan pas. Pohon-pohon kelapa yang ada di dasar tebing terlihat seperti rumput dari ketinggian seperti ini. Saya merasa seakan diri saya menyatu dengan langit, juga dengan burung-burung yang berterbangan untuk pulang kembali ke sarang.

Berbeda dengan pitch satu yang luas, pitch tempat saya menginap di hari pertama sangat tidak nyaman dipakai untuk bermalam. Tidak ada tempat untuk merebahkan badan, bahkan hanya ujung pantat saja rasanya yang menempel di tebing, sangking kecilnya pitch itu. Lebih tepatnya saya dan Reny hanya menggantung pada seat harness selama satu malam. Sholah dan Chaiz yang berada satu pitch di atas juga mengalami hal yang tidak berbeda. Semalaman tidak dapat terhitung berapa kali saya terbangun dan berharap pagi bisa segera datang.

Ketika langit berangsur-angsur menjadi terang, ketika kabut pagi seolah berbaris menutupi hamparan perbukitan luas yang ada didepan kami, ada rasa syukur yang saya ucap dalam hati. Suasana fajar memiliki kesan yang lagi-lagi dapat membius suasana hati. Selain itu, datangnya pagi juga berarti bahwa tubuh ini bisa lebih banyak bergerak dengan kembali melanjutkan pemanjatan.

Sebelum melanjutkan pemanjatan kami harus sarapan dulu untuk mengisi ulang energy. Menunya adalah spaghetti dan kentang goreng. Spaghetti kami masak menggunakan Trangia, sementara kentang goreng sudah dimasak kemarin, sebelum kami memulai pemanjatan. Kentang goreng yang sudah didiamkan selama satu hari satu malam itu rasanya dingin dan anyep

Kegiatan pemanjatan di hari kedua kemudian terus dilanjutkan sampai pada akhirnya Chaiz mengatakan bahwa dia tidak bisa menemukan pengaman saat menjadi leader. Padahal saat itu dia belum sampai ke pitch. Menggunakan handy talky, Tito dan Ferdian yang menjadi kru darat mencoba mengarahkan Chaiz untuk mencari pengaman pada pakis-pakis yang tumbuh di tebing, yang mungkin saja menutupi pengaman. Namun pengaman itu tidak kunjung ditemukan.

Saat itu sangat menegangkan, karena chaiz sudah berada tujuh meter diatas pengaman terakhir yang dia pasang. Itu artinya jika dia jatuh, ia akan terjatuh minimal sejauh empat belas meter ke bawah. Chaiz akhirnya menemukan pengaman, namun pengaman itu masih terletak dua meter lagi diatas. Karena sudah tidak mungkin turun, ia akhirnya memutuskan untuk mencoba naik maeraih pengaman tersebut. Adrenalin Chaiz semakin terpacu mengingat posisi tim sudah berada di ketinggian lebih dari 100 meter diatas permukaan tanah.

Untungnya pengaman mampu diraih oleh chaiz. Akhirnya diputuskan untuk menjadikan pengaman tersebut sebagai tiik akhir pemanjatan. Selanjutnya tim melakukan pengeboran pada tebing untuk menambahkan pengaman, dan juga untuk memasang belay station sebgai alat bantu untuk bisa kembali turun ke dasar.

Beberapa pengaman berupa hanger dipasang. Hal ini memakan waktu karena Tebing Tanggul adalah batuan andesit yang memiliki karakteristik kuat dan keras. Apalagi alat yang kami gunakan untuk melubangi tebing tempat memasang hanger masih manual. Masih menggunakan hand drill.

Pemasangan hanger sebagai pengaman pada Tebing Tanggul baru kami selesaikan pada keesokan harinya di hari ketiga pemanjatan. Kemudian baru setelah itu kami satu persatu turun menggunakan tali sampai ke dasar.

*) Tulisan ini saya buat dua tahun setelah kegiatan berlangsung. Jadi banyak hal yang tidak dapat saya jelaskan secara detail, karena keterbatasan ingatan. Kegiatan ini merupakan simulasi II Rock Climbing AMED 38 IMPALA UB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s