Rencananya Kesana Jalannya Kesitu

15786.jpg

(dari kiri ke kanan: Saya, Ardhie (depan), Wawan (belakang), Fidi, Dope)

“Nggak bisa di, nggak mungkin kita sekarang ke Arjuno”

“Aaa ga mau tau gua. Pokoknya kita sekarang kesana!” Setelah perdebatan panjang lebar akhirnya ardhie ngalah juga. Kami nggak jadi naik ke Arjuno.

Waktu itu udah jam sepuluh lewat dan belum ada persiapan apa-apa buat naik gunung. Alat-alat dan konsumi belum kami siapin. Informasi tentang gunung yang mau kami daki masih kosongan sama sekali. Mau naik lewat jalur mana aja kami masih belum tau.

Apalagi kami nggak punya pengalaman naik gunung. Pernah sih naik Panderman sekali. Tapi itu juga nyasar. Padahal banyak orang bilang Panderman bukan gunung, cuma bukit. Karena masih pengen jalan-jalan, akhirnya kami ubah rencana jadi ngecamp di pantai.

Tadinya yang bisa berangkat cuma tiga orang. Saya, Fidi, dan Ardhie. Kami temen satu fakultas. Baru setelah ngajakin anak-anak kosannya Ardhie dan Fidi, kami dapat dua orang tambahan. Wawan sama Dope.

Persiapan kami lakukan dengan cara semaunya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sebenernya lama juga sih, karena ribet nyari kamera gopro buat dokumentasi. Maklum aja, temen-temen saya ini termasuk kelompok yang mengangap foto-foto bagus untuk pamer adalah salah satu indikator keberhasilan jalan-jalan.

Persiapan selesai. Dope yang paling ngotot buat bawa gopro juga udah terpuaskan. Kami berlima akhirnya berangkat. Awalnya kami pengen berangkat naik motor, tapi nggak tau kenapa kami jadi berangkat naik mobil Wawan.

“Ah masa kita cuma berangkat ke pantai sih. Ga seru.”

Ardhie buka topik di mobil. Nggak lama setelah kita berangkat dari kosan.

“Kan gua bilang, Arjuno treknya berat kalo kata temen gua. Kita belom nyiapin apa-apa.” Saya jawab omongannya Ardhie. Kayaknya dia masih belum terima kalo rencana naik gunung diganti jadi ke pantai.

“Iye sih, tapi beda ky feelnya kalo ke gunung.”

Kata fidi. Padahal waktu di Panderman dia paling lemah. Jalannya paling lama.

“Wah ga kuat gua kalo naik gunung.”

Wawan yang badannya gendut ikut masuk obrolan sambil nyetir.

“Cari gunung yang treknya enteng aja. Biar wawan kuat.” Dope nambahin.

“Apa ky gunung yang treknya enteng tapi bagus? Tanya Fidi ke saya.

“Nggak tau pid.”

“Ah gimana sih lo, katanya anak IMPALA” bales Fidi lagi.

Mereka emang ngeselin kalo soal naik gunung. Pasti bawa-bawa keanggotaan saya di IMPALA. Padahal waktu itu saya belum lama ikut IMPALA. Mulai perencanaan naik gunung, persiapan alat, sampai bawa carrier paling berat mereka selalu usaha buat nyusahin saya. Mereka selalu pakai kata-kata sakti “kan lo anak IMPALA”

Bermodalkan smartphone, kami dapet satu informasi gunung yang punya trek pendek dan pemandangan bagus. Gunung Prau. Cuma tiga empat jam buat bisa sampai puncak dari start point. Tapi lokasinya ada di Dieng, Jawa Tengah.

“Jauh banget tapi ya. Abis duit berapa kita kalo kesana.” Fidi mulai ragu.

“Udah gapapa, nanti bensin ditanggung Wawan semua. Santai aja sama bos kita.”

Kata Dope sambil nengok cengengesan ke arah Wawan.

“Nah iya wan!” kata Fidi dan Ardhie kompak.

“Wah gila lu semua. Mobil udah pake mobil gua, bensin pake duit gua juga?”

Kami semua ketawa denger Wawan ngomel-ngomel.

“Tapi sayang sih kalo ga kesana.”

“Iya sih sayang banget.”

Saya jadi setuju sama Ardhie setelah ngeliat foto-foto Gunung Prau di internet.

“Gini aja deh, lu berempat patungan gocap-gocap buat beli bensin. Sisanya pake duit gua.”

Wawan coba ngasih solusi. Kami sempat terdiam beberapa detik. “Boleh wan!” Kata saya, Ardhie, Fidi dan Dope hampir berbarengan.

Mobil yang udah berjalan ke arah Pantai Malang selatan kemudian berhenti. Memutar balik, menuju Dieng Jawa Tengah. Tempat yang jaraknya empat ratus kilometer dari Kota Malang.

Tapi setelah beberapa lama Wawan kembali angkat bicara. “Wah nyesel gua sekarang, kalo lu berempat cuma patungan gocap-gocap terus sisanya gua, tekor dong gua.”

Kami semua tertawa mendengar penyesalannya. Waktu itu Wawan prediksi bensin mobilnya akan habis sampai empat atau lima ratus ribu.

“Cowok tuh yang dipegang omongannya wan.” Sahut Ardhie.

“Iya, iya.” Jawab wawan dengan nada kesal. Kami kembali tertawa lebih keras. Setelah itu kami benar-benar berangkat menuju Dataran Tinggi Dieng.

Gunung Prau memang indah. Jauh lebih indah dibanding gambar-gambar yang tertangkap kamera. Tapi benar juga orang yang mengatakan bahwa dalam sebuah perjalanan yang penting adalah proses perjalanan itu sendiri, bukan tujuan.

Proses perencanaan ‘gila’ itulah yang justru jadi momen paling berkesan untuk saya. Jalan-jalan yang cukup jauh dari Kota Malang ke Dataran Tinggi Dieng hanya direncanakan dalam beberapa menit. Itu pun direncakan saat kami semua sudah berada di kendaraan menuju pantai.

Semua perlengkapan seperti sleeping bag, matras dan headlamp kami penuhi di pos pendakian. Mau nggak mau kami harus sewa. Mau gimana lagi, kami cuma bawa tenda, kompor, gitar dan kemeja pantai.

………………………………………………………………

Tulisan ini saya buat untuk mengenang Wawan dan Dope

Saya dapat kabar kemarin siang, 27 juni 2018, Wawan udah pergi ke tempat keabadiannya. Kabar yang membuat dada saya sesak. Bukan hanya karena kabar tentang Wawan yang udah nggak ada, tapi saya juga teringat tentang Dope. Dope yang udah lebih dulu pergi dua tahun lalu. Sekarang dari lima orang, kami tinggal bertiga.

Saya masih ingat ketika Wawan teriak-teriak kegirangan kayak anak kecil waktu kami ajak jalan-jalan. Saya juga masih ingat Dope yang nyeker turun dari Prau karena sendal jepitnya putus. Tidak pernah ada yang nyangka kalau Wawan yang badannya paling subur dan Dope yang punya fisik kuat akan pergi lebih dulu, secepat ini.

Setiap yang berwujud pasti akan rusak, dan setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tugas kita bukan bertanya tentang siapa yang akan rusak atau pergi lebih dulu. Siapa yang bisa memberi jawaban kecuali saat kerusakan dan kematian itu datang? Mungkin kita hanya bisa saling mengingatkan untuk terus kembali pada kebaikan, sambil menunggu waktu itu datang.

Terimkasih Wawan, Dope.

Advertisements

Cinta Tak Pernah Pilih-Pilih

cinta bukan cuma ada di gedung gedung mewah tempat tuan nyonya bersih dan wangi tertawa

cinta juga ada pada rintihan wanita di gang gang sempit pelacuran, yang mencari nafkah agar sekolah anaknya tetap berjalan

juga ada pada sepasang suami istri lusuh kelaparan yang tersenyum melihat sang putra akhirnya bisa makan

cinta tidak hanya ada pada obrolan hangat dua manusia dalam mobil mewah yang melintas di jalan protokol perkotaan

cinta juga ada dalam tangis istri-istri di desa yang melihat sawah para suami mereka dicuri pabrik dan tambang

bahkan ada juga pada uang koin yang menggosok punggung kuli bangunan yang masuk angin

cinta tak pernah pilih pilih
tumbuh di tiap manusia yang masih miliki kasih

Bla-bla-bla IMPALA

Untuk apa ikut IMPALA? Ngapain sih segitunya banget aktif di organisasi? Pertanyaan-pertanyaan kaya gitu sering banget saya dapet dari temen-temen. Saya yakin pertanyaan yang sama juga didapet anggota-anggota IMPALA yang lain. Kalau udah dapet pertanyaan kaya gitu paling kita cuma bisa senyum terus ngejawab dengan alesan-alesan ngawur.  Mentok-mentok kita cuma bisa ketawa terus ngomong “haha aku juga bingung kenapa”

Wajar juga sih banyak yang nanya kaya gitu. Kegiatan IMPALA dalam satu tahun itu padet, konsekuensinya sebagian besar waktu kita habis buat IMPALA. Sampai muncul istilah umum; anggota IMPALA itu fakultasnya di sekretariat. Kuliah cuma jadi kegiatan UKM doang, sampingan.

Tapi kadang bosen juga ditanyain hal yang sama berulang-ulang. Akhirnya saya coba pikirin biar bisa kasih mereka jawaban yang memuaskan. Dan setelah perenungan panjang yang menghabiskan banyak waktu dan energi, akhirnya saya mendapat ilham. Jawabannya adalah karena kita anggota IMPALA punya ikatan emosional yang tinggi, baik itu ikatan antar anggota maupun ikatan emosional ke organisasi.

Gimana ikatan emosional antar anggota itu terbentuk punya penjelasannya sendiri. Intensitas pertemuan antar anggota IMPALA itu sangat tinggi, setinggi curah hujan kota Malang di musim penghujan. Setiap hari selama bertahun-tahun waktu kita abis aja sama mereka-mereka para anggota. Makan bareng, tidur bareng, nongkrong bareng, cuma aktivitas buang hajad aja kayanya yang ga bareng.

Ikatan emosional juga terbentuk karena perasaan senasib seperjuangan selama berkegiatan di IMPALA. Perjuangan meyukseskan kegiatan yang udah berani kita konsepkan. Kadang kita suka bingung dan bertanya-tanya pada Tuhan kenapa kita kayaknya enggak pernah benar kalau berkegiatan di IMPALA. Selalu aja kena semprot walau kita ngerasa udah menjalankan kegiatan dengan maksimal. Tapi selama proses penggojlokan mental itu sebenernya kita dipacu untuk terus jadi lebih baik dan secara tidak langsung solidaritas anggota juga terbentuk.

Selain ikatan emosional antar anggota, ada juga ikatan emosional dari tiap anggota ke organisasi. Anggota IMPALA ngerasa kalau mereka dapet banyak ilmu selama aktif berorgnisasi. Ilmu yang menurut mereka berguna bagi kehidupan.  Jadi mereka ingin IMPALA tetap eksis, agar adik-adiknya juga bisa berkembang dan dapet ilmu, sama seperti apa yang mereka dapet dulu. Jadi jangan heran kalau kalau wong wong tuwek, anggota IMPALA yang udah pada tua masih suka datang ke sekretariat dan tetap coba berkontribusi.

IMPALA UB yang berasas kekeluargaan jadi bukan cuma omong kosong karena itu semua. Antar anggota sampai hilang rasa kesungkanganan buat saling ‘nyusahin’.  Semua anggota bisa jadi dirinya sendiri. Walau kadang ada juga sih anggota yang kebawa emosi dan berantem. Berantem karena bercandaan anak IMPALA yang memang sering  kelewat bates. Tapi tunggu aja berberapa jam paling mereka udah akur lagi.

Kira-kira itu yang menurut saya bisa jadi jawaban buat mereka yang nanya kenapa mau aktif di IMPALA. Tapi setelah dipikir lagi kepanjangan juga kalau harus menjelaskan itu semua ke mereka. Dan lagi mereka akan tetap kesulitan untuk ngerti, karena mereka memang ga ngerasain langsung seperti apa yang kita alamin. Jadi kalo ada yang nanya lagi kenapa, jawab aja “karena aku anak IMPALA, kamu ga akan ngerti.”

Mlg-Jkt Februari 2018

Selalu ada yang menarik dalam perjalanan panjang menggunakan kereta. Terlebih jika perjalanan itu dilakukan seorang diri. Lima belas jam lebih saya melintasi pulau jawa dari malang menuju jakarta.

Waktu perjalanan yang panjang membuat banyak interaksi dilakukan antar penumpang. Walau mereka belum saling kenal. Setidaknya interaksi itu bisa sedikit membunuh waktu.

Selama perjalanan kemarin saya duduk bersama seorang pria yang bekerja sebagai buruh pabrik di tangerang. Bapak ini senang bicara dan bercerita. Ia hampir bicara tentang apa saja mulai dari kehidupan pekerjaan sampai kehidupan pribadinya.

Ia bercerita bahwa ia adalah anak dari seorang prajurit tentara yang kini sudah pensiun. Ayahnya adalah orang berkepribadian keras. Baru saja ayahnya bertengkar dengan menantu dan hampir membunuhnya dengan keris.

Anak bapak ini tidak kuliah dan belum juga bekerja setelah lulus sma. Ia tidak ingin memaksakan apapun ke anaknya. Mungkin karena ia tidak ingin mengulangi bagaimana ia dulu dididik dengan cara militer oleh ayahnya.

Pabrik tempat ia bekerja memproduksi ban untuk kendaraan bermotor. Ia mengeluhkan beberapa hal tentang pekerjaannya. Karir sebagai operator mesin pabrik akan sangat lama untuk naik. Kinerja yang baik tidak berarti apa-apa bagi para buruh, itu justru hanya akan dinilai sebagai prestasi karyawan di level manajer.

Kereta akan berhenti di beberapa stasiun selama perjalanan. Kesempatan ini biasa saya gunakan untuk membakar rokok di saat kereta berhenti cukup lama. Selagi menghisap rokok saya senang memperhatikan keramaian dan kesibukan yang terjadi di stasiun.

Salah satu yang menarik peratian saya adalah aktvitas para pengangkut barang. Mereka dengan seragam lusuh, yang mungkin hanya satu minggu sekali dicuci, dengan sigap memasukan peti-peti besar atau bahkan sepeda motor ke gerbong khusus barang. Salah satu diantara mereka ada yang tertidur lelah di atas lori. Maklum saja bagi saya karena saat itu memang sudah jam dua pagi, waktu yang memang dipakai manusia normal tidur.

Sebenarnya saya tertarik untuk berbicara dengan para pengangkut barang itu. Ada beberapa pertanyaan yang muncul. Bagaimana kesejahteraan mereka sebagai pekerja? Apakah mereka senang dengan pekerjaannya? Namun kereta tidak pernah berhenti terlalu lama untuk saya sempat berbincang. Lagipula mereka selalu terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Terhormatlah mereka, terhormatlah mereka yang bekerja!

Kereta kemudian kembali berjalan. Orang-orang di dalamnya terlelap. Beberapa tetap terjaga dan menatap kosong keluar jendela, menerbangkan pikiran kemana-mana.

Tebing Tanggul nan Tangguh!!

Tebing Tanggul nan Tangguh!!

Sinar matahari, baru akan menyentuh langsung kulit diatas pukul dua belas. Sebelumnya sinar matahari terhalang oleh tebing setinggi lebih dari dua ratus meter. Tebing tanggul dengan gagah membuat bayangan raksasa di sekitar kami. Kondisi ini menguntungkan, karena pemanjatan yang kami lakukan bisa berlangsung sedikit lebih nyaman.

Waktu pertama melihat tebing tanggul dari dekat, kami dapat merasakan kegagahan yang tebing ini miliki. Sebuah perasaan luar biasa yang selalu saya dapat ketika berada di alam bebas. Tebing tanggul berhasil memancarkan keagungan Sang Pencipta.

Saya mendapat kesempatan pertama sebagai leader untuk menjajal tebing yang berada di Kabupaten Tulungagung ini. Saya merintis jalur dari dasar tebing ke pitch satu. Saya sedikit mengalami kesulitan karena pegangan yang ada pada jalur sedikit dan jarak antar pengaman cukup jauh. Terasa sedikit kagok untuk saya yang selama lebih dari satu bulan belum menjajal lagi tebing sungguhan setelah akhirnya saya merayap-rayap di Tebing Tanggul.

Pitch satu tebing tanggul kira-kira cukup untuk lima orang duduk secara nyaman dan terdapat satu pohon dengan tinggi sekitar dua meter. Tempat yang cukup luas untuk ukuran pitch di tebing. Pemanjatan kemudian terus dilanjutkan dengan saling berganti peran (leader, cleaner, rescuer/tim hauling) antar anggota tim di tiap pitch. Pemanjatan kali ini dilakukan oleh empat orang dan tentunya dua orang tambahan sebagai kru darat yang bertugas memantau pemanjatan dari bawah.

Saat berada di pitch dua saya sempat merasa kebingungan, setelah Reny yang berada di pitch satu memarahi saya yang melihat ke arah bawah. Kemudian saya ketahui ternyata Reny marah karena pada saat itu dia sedang buang air besar di pitch satu. Setelah mengetahui itu saya tidak dapat menahan tawa. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana Reny bisa melakukan ‘aktivitias fitrahnya’ dalam kondisi seperti itu, karena saya sampai saat ini tidak pernah melakukan ‘itu’ saat sedang berada di tebing. Pemanjat wanita satu-satunya di tim kami ini memang sediki ‘aneh’.

Pemanjatan hari pertama dihentikan ketika langit dipenuhi guratan-guratan merah. Suasana entah mengapa menjadi sangat indah. Angin sejuk yang menghempas lembut wajah dan pemandangan langit sore menjadi paduan pas. Pohon-pohon kelapa yang ada di dasar tebing terlihat seperti rumput dari ketinggian seperti ini. Saya merasa seakan diri saya menyatu dengan langit, juga dengan burung-burung yang berterbangan untuk pulang kembali ke sarang.

Berbeda dengan pitch satu yang luas, pitch tempat saya menginap di hari pertama sangat tidak nyaman dipakai untuk bermalam. Tidak ada tempat untuk merebahkan badan, bahkan hanya ujung pantat saja rasanya yang menempel di tebing, sangking kecilnya pitch itu. Lebih tepatnya saya dan Reny hanya menggantung pada seat harness selama satu malam. Sholah dan Chaiz yang berada satu pitch di atas juga mengalami hal yang tidak berbeda. Semalaman tidak dapat terhitung berapa kali saya terbangun dan berharap pagi bisa segera datang.

Ketika langit berangsur-angsur menjadi terang, ketika kabut pagi seolah berbaris menutupi hamparan perbukitan luas yang ada didepan kami, ada rasa syukur yang saya ucap dalam hati. Suasana fajar memiliki kesan yang lagi-lagi dapat membius suasana hati. Selain itu, datangnya pagi juga berarti bahwa tubuh ini bisa lebih banyak bergerak dengan kembali melanjutkan pemanjatan.

Sebelum melanjutkan pemanjatan kami harus sarapan dulu untuk mengisi ulang energy. Menunya adalah spaghetti dan kentang goreng. Spaghetti kami masak menggunakan Trangia, sementara kentang goreng sudah dimasak kemarin, sebelum kami memulai pemanjatan. Kentang goreng yang sudah didiamkan selama satu hari satu malam itu rasanya dingin dan anyep

Kegiatan pemanjatan di hari kedua kemudian terus dilanjutkan sampai pada akhirnya Chaiz mengatakan bahwa dia tidak bisa menemukan pengaman saat menjadi leader. Padahal saat itu dia belum sampai ke pitch. Menggunakan handy talky, Tito dan Ferdian yang menjadi kru darat mencoba mengarahkan Chaiz untuk mencari pengaman pada pakis-pakis yang tumbuh di tebing, yang mungkin saja menutupi pengaman. Namun pengaman itu tidak kunjung ditemukan.

Saat itu sangat menegangkan, karena chaiz sudah berada tujuh meter diatas pengaman terakhir yang dia pasang. Itu artinya jika dia jatuh, ia akan terjatuh minimal sejauh empat belas meter ke bawah. Chaiz akhirnya menemukan pengaman, namun pengaman itu masih terletak dua meter lagi diatas. Karena sudah tidak mungkin turun, ia akhirnya memutuskan untuk mencoba naik maeraih pengaman tersebut. Adrenalin Chaiz semakin terpacu mengingat posisi tim sudah berada di ketinggian lebih dari 100 meter diatas permukaan tanah.

Untungnya pengaman mampu diraih oleh chaiz. Akhirnya diputuskan untuk menjadikan pengaman tersebut sebagai tiik akhir pemanjatan. Selanjutnya tim melakukan pengeboran pada tebing untuk menambahkan pengaman, dan juga untuk memasang belay station sebgai alat bantu untuk bisa kembali turun ke dasar.

Beberapa pengaman berupa hanger dipasang. Hal ini memakan waktu karena Tebing Tanggul adalah batuan andesit yang memiliki karakteristik kuat dan keras. Apalagi alat yang kami gunakan untuk melubangi tebing tempat memasang hanger masih manual. Masih menggunakan hand drill.

Pemasangan hanger sebagai pengaman pada Tebing Tanggul baru kami selesaikan pada keesokan harinya di hari ketiga pemanjatan. Kemudian baru setelah itu kami satu persatu turun menggunakan tali sampai ke dasar.

*) Tulisan ini saya buat dua tahun setelah kegiatan berlangsung. Jadi banyak hal yang tidak dapat saya jelaskan secara detail, karena keterbatasan ingatan. Kegiatan ini merupakan simulasi II Rock Climbing AMED 38 IMPALA UB.

Duduklah Sini 

Tidak mau kah kamu duduk disini?

Bertanya apa kehendak hidup pada kita?

Mari sini duduk bersamaku dengan meja kecil yang telah aku siapkan

Mari kita saling tertawa pada takdir yang selalu berhasil membuat kita terkejut tak menyangka.

Aku telah siapkan teh hangat kesukaan mu; tidak terlalu kental dan tidak terlalu manis

Nikmati lah, karena hanya pada hal-hal sederhana seperti ini keinginan dapat terpenuhi

Tidak apa jika kau memang tak ingin bicara, kau cukup duduk di bangku itu

Melihatmu dari dekat adalah obat

Obat untuk hidupku yang kadang seperti terinfeksi penyakit paru

Pemutar Rekaman

(1)

Dalam hening kau datang kedalam pikiran, berjalan-jalan dalam kepala, membawa rekaman-rekaman masa lalu. Aku meminta kau memainkan setiap rekaman yang kau pegang. Kau memainkan satu persatu rekaman itu. Kadang gambar menjadi samar, tapi kesan yang ada saat itu tetap dapat kurasakan. Dalam ramai engkau sedikit mundur, bersembunyi. Kemudian dalam hening engkau kembali datang membawa rekaman-rekaman, walau seringkali sama, tapi tetap menghadirkan haru.
(2)

Engkau pemutar rekaman, engkaulah juga pemain dalam gambar-gambar itu. Dalam gambar kita berbicara. Dalam gambar kita tertawa. Diluar gambar aku tersedu.
(3)

Engkau pemutar rekaman, kita tak dapat lagi membuat gambar-gambar baru. Tetap mainkan dan putarkan. Jangan biarkan rusak apalagi hilang. Kita sudah tak bisa lagi membuat gambar-gambar baru!